Pengangkutan Limbah B3

Pengangkutan limbah B3 adalah kegiatan pemindahan limbah B3 dari suatu lokasi pengelolaan ke lokasi pengelolaan lainnya. Semua kegiatan pengangkutan limbah B3 harus memiliki tujuan akhir pengelolaan dan tidak boleh dilakukan antar kegiatan yang memiliki fungsi yang sama. Kegiatan pengangkutan limbah B3 dapat disimulasikan sebagai berikut:

  • dari penghasil ke pengumpul
  • dari penghasil ke pemanfaat
  • dari penghasil ke pengolah
  • dari penghasil ke penimbun akhir
  • dari pengumpul ke pemanfaat
  • dari pengumpul ke pengolah
  • dari pengumpul ke penimbun akhir

Jika pengangkutan dari penghasil berhenti di pengumpul, maka pengumpul tersebut akan bertindak sebagai penghasil baru ketika akan melakukan pengangkutan ke pemanfaat, pengolah atau penimbun.

Di antara semua kegiatan pengelolaan limbah B3, pengangkutan limbah B3 merupakan satu-satunya kegiatan yang izin operasionalnya tidak diberikan oleh KLHK, melainkan oleh Departemen Perhubungan. Peran KLHK dalam kegiatan pengangkutan limbah B3 adalah memberikan rekomendasi kepada perusahaan yang melakukan jasa pengangkutan limbah B3, yang tanpa rekomendasi ini izin operasional dari Departemen Perhubungan tidak akan diberikan.

Pada dasarnya kegiatan pengangkutan limbah B3 adalah kegiatan penyimpanan limbah B3 dalam bentuk berjalan. Oleh sebab itu, semua kaidah penyimpanan limbah B3 harus pula diterapkan dalam pengangkutan limbah B3, antara lain:

  • pemilihan alat angkut yang sesuai dengan limbah B3 yang akan diangkut
  • pelekatan simbol limbah B3 pada badan kendaraan pengangkut sebagai bentuk komunikasi bahaya atas limbah B3 yang diangkut
  • penerapan aturan segregasi dalam pemuatan limbah B3 ke dalam alat angkut
  • penerapan inspeksi kondisi limbah B3 yang diangkut oleh pengemudi

Berdasarkan PP 101/2014, jenis kendaraan yang digunakan untuk mengangkut limbah B3 harus disesuaikan dengan kategori limbah B3-nya. Untuk limbah B3 kategori 1 harus diangkut menggunkan kendaraan tertutup, sedangkan limbah B3 kategori 2 boleh diangkut menggunakan kendaraan terbuka.

Pengangkutan limbah B3 berkaitan dengan kegiatan bongkar-muat limbah. Dalam hal pemuatan, pengemudi harus memastikan bahwa limbah B3 yang akan diangkut dikemas dengan baik. Pengemudi memiliki hak penuh untuk tidak mengangkut limbah B3 yang kemasannya tidak baik/layak.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat bongkar-muat limbah B3 antara lain:

  1. Pastikan hanya melakukan bongkar-muat di lokasi yang sudah ditentukan.
  2. Usahakan lokasi bongkar-muat dibuat tertutup (indoor), atau minimal memiliki atap.
  3. Buat saluran penampungan tumpahan yang kedap air dan bak penampungan tumpahan yang buntu di lokasi bongkar-muat.
  4. Tutup saluran penampungan limpasan air hujan saat kegiatan bongkar-muat berlangsung untuk menghindari masuknya tumpahan limbah B3 ke dalam saluran tersebut.
  5. Hindari melakukan kegiatan bongkar-muat saat hujan untuk menghindari potensi tumpahan yang akan larut dan terbawa oleh limpasan air hujan.
  6. Seluruh muatan harus diikat kuat selama dan posisinya diatur dengan baik sehingga bebannya terdistribusi secara merata di sumbu-sumbu kendaraan.
  7. Pastikan pemuatan kemasan ke dalam kendaraan juga memperhitungkan kemudahan dan keamanan saat pembongkaran.

Dokumen pengangkutan limbah B3

Seluruh kegiatan pengangkutan limbah B3 yang melewati fasilitas publik harus dilengkapi dengan dokumen pengangkutan limbah B3, atau yang biasa disebut sebagai limbah B3. Manifest limbah B3 dapat berupa lembaran kertas yang dicetak ataupun elektronik. Setiap perusahaan penyedia jasa pengangkutan limbah B3 harus memiliki manifest yang akan diperoleh pada saat pengjuan rekomendasi pengangkutan ke KLHK. Dokumen ini merupakan salah satu bentuk komunikasi bahaya dari suatu limbah B3 yang diangkut, yang di dalamnya berisi informasi yang mencakup:

  • nama, alamat dan nomor telepon penghasil limbah, termasuk lokasi pengambilannya
  • nama, alamat dan nomor telepon perusahaan pengangkut limbah
  • nama, alamat dan nomor telepon fasilitas penerima limbah
  • identitas, bentuk fisik, karakteristik, kode, jumlah, kelas bahaya dan kode pengangkutan, dan
  • informasi terkait tindakan yang harus dilakukan pada saat terjadi kedaruratan selama pengangkutan.

Sistem manifest ini juga diterapkan di negara lain yang sudah meratifikasi Konvensi Basel dan melakukan kegiatan pengelolaan limbah B3, namun implementasinya bisa berbeda satu sama lain tergantung regulasi setempat. Contohnya adalah di Amerika Serikat, di mana satu manifest dapat digunakan untuk empat jenis limbah yang kompatibel satu sama lain (seperti manifest pesawat), sementara di Indonesia satu manifest hanya dapat digunakan untuk satu limbah saja.

Beberapa hal penting tentang manifest limbah B3:

  1. Manifest limbah B3 terdiri dari tiga bagian yang masing-masing harus diisi sebagai berikut:
    • Bagian pertama (atas) oleh penghasil
    • Bagian kedua (tengah) oleh pengangkut
    • Bagian ketiga (bawah) oleh fasilitas penerima (pengumpul, pemanfaat, pengolah atau penimbun)
  2. Manifest limbah B3 merupakan dokumen pengangkutan limbah B3, bukan dokumen pengolahan/penimbunan limbah B3.
  3. Manifest limbah B3 merupakan dokumen negara sehingga harus dijaga jangan sampai hilang. Kehilangan manifest harus dilaporkan ke pihak kepolisian.
  4. Satu kendaraan pengangkutan dapat memuat lebih dari satu manifest, tetapi satu manifest tidak boleh dimuat di lebih dari satu kendaraan pengangkutan.
  5. Manifest limbah B3 yang saat ini berlaku mampu mengakomodir hingga tiga kali perpindahan moda transportasi. Pada pengangkutan dengan lebih dari tiga kali perpindahan moda transportasi harus melibatkan pengumpul berizin untuk dilakukan pergantian manifest.
  6. Masing-masing salinan manifest harus disimpan dan didistribusikan sesuai ketentuan.

 Kompetensi pengemudi angkutan limbah B3

Salah satu kendala terbesar pada sektor pengangkutan limbah B3 adalah kompetensi pengemudi angkutan limbah B3. Kompetensi yang dimaksud di sini bukanlah keahlian mengemudi, melainkan pengetahuan tentang limbah B3 yang diangkutnya termasuk bagaimana cara penanganannya dengan baik dan benar. Tanpa bermaksud mendiskreditkan profesi pengemudi, namun tak bisa kita pungkiri bahwa mayoritas pengemudi angkutan darat di Indonesia memiliki tingkat pendidikan yang kurang. Oleh sebab itu saat ini Departemen Perhubungan membuat sebuah aturan tentang kompetensi pengemudi angkutan limbah B3, di mana para pengemudi ini harus memiliki sertifikasi khusus yang dapat diperoleh melalui diklat. Hanya saja kurikulum untuk diklat ini masih belum ditetapkan. Diklat dan sertifikasi pengemudi angkutan limbah B3 ini juga sudah diterapkan di beberapa negara, khususnya negara maju, salah satunya ialah Australia. Kurikulum diklat dan sertifikasi pengemudi angkutan limbah B3 di Australia mencakup empat aspek sebagai berikut:

  1. Pengetahuan tentang limbah B3
  2. Pengetahuan tentang aspek K3L
  3. Pengetahuan tentang kendaraan
  4. Pengetahuan tentang komunikasi dan pelayanan pelanggan

About Muhammad Yusuf Firdaus

Board Certified Professional Chemical Engineer | Scientist | Hazardous Waste Specialist

Posted on March 31, 2016, in Chemical Engineering, Waste Management and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Thanks for sharing this, this post was very useful to me as added awareness for hazardous waste transportation.

  2. terimakasih atas artikelnya sangat bermanfaat kami tunggu artikel selanjutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: