Penyimpanan Limbah B3

Penyimpanan limbah B3 bertujuan untuk menyimpan sementara suatu limbah B3 sampai dilakukan pengelolaan lebih lanjut untuk mencegah terlepasnya limbah B3 tersebut ke lingkungan sehingga potensi bahaya terhadap manusia dan lingkungan dapat terhindarkan. Penyimpanan limbah B3 harus mematuhi aturan penyimpanan yang ditetapkan oleh Pemerintah. Secara umum jangka waktu penyimpanan limbah B3 adalah maksimal 90 hari terhitung sejak limbah tersebut dihasilkan. Jika limbah B3 tersebut dihasilkan dalam jumlah sedikit – di Indonesia adalah kurang dari 50 kg/hari – maka penyimpanan dapat dilakukan lebih dari 90 hari. Selain itu terdapat pula aturan terpisah untuk jangka waktu penyimpanan limbah infeksius yang dihasilkan dari fasilitas kesehatan yang tertuang dalam Kep-1204/MENKES/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Dalam aturan ini disebutkan bahwa penyimpanan limbah infeksius pada musim kemarau maksimal adalah 1 x 24 jam, sedangkan pada musim hujan maksimal adalah 2 x 24 jam.

Seperti halnya pada kemasan, fasilitas penyimpanan limbah B3 juga harus ditandai dengan simbol limbah B3 sesuai dengan karakteristik limbah B3 yang disimpan di dalamnya.

Setiap kemasan limbah B3 yang disimpan harus dijaga agar selalu dalam kondisi yang baik selama penyimpanan: tidak penyok dan berkarat, tidak bocor, serta tidak menggembung. Jika salah satu kondisi tersebut terjadi pada kemasan, maka harus dilakukan pengemasan ulang dengan cara memindahkan muatannya ke dalam kemasan lain. Selalu berhati-hati dalam menangani dan menyimpan kemasan untuk menghindari terjadinya kerusakan dan kebocoran pada kemasan; gunakan alat bantu ketika akan mengangkat kemasan, jangan menggelindingkan kemasan apalagi dengan tangan kosong.

Penyimpanan limbah B3 juga harus dilakukan berdasarkan karakteristiknya; limbah-limbah dan/atau limbah dan bahan dengan karakteristik yang tidak saling cocok harus disimpan terpisah agar tidak bereaksi satu sama lain, dibatasi dengan sekat, tanggul, tembok rendah, atau penghalang lainnya.

Penyimpanan limbah B3 dengan kemasan berupa drum dapat pula dilakukan dengan cara dibuat bertumpuk untuk memaksimalkan penggunaan area penyimpanan. Namun demikian hal ini tidak boleh diterapkan untuk limbah yang bersifat mudah meledak, mudah menyala, dan reaktif. Limbah-limbah jenis ini harus disimpan di area khusus untuk mengurangi risiko publik untuk berkontak dengan limbah-limbah tersebut atau terpapar ledakan, sekaligus mencegah migrasi ke lingkungan jika terjadi tumpahan. Limbah-limbah dengan karakteristik mudah meledak, mudah menyala, dan reaktif harus dijauhkan dari kondisi berikut:

  1. api,
  2. permukaan panas, seperti mesin,
  3. pancaran panas atau sinar matahari,
  4. kegiatan pemotongan dan pengelasan logam,
  5. friksi panas – jangan menyeret kemasan di sepanjang lantai,
  6. percikan dari listrik statis, kegiatan elektrik, atau friksi, dan
  7. untuk limbah reaktif harus dijauhkan dari air.

INSPEKSI PENYIMPANAN LIMBAH B3

Inspeksi area penyimpanan limbah B3 harus dilakukan secara rutin seminggu sekali. Inspeksi ini dapat melindungi kita dari potensi tumpahan dan bahaya lainnya sebelum terjadi. Daftar periksa harus dibuat guna mempermudah inspeksi – daftar periksa ini harus rinci serta mencakup prosedur penandaan  dan pengelolaan penyimpanan. Daftar periksa sekurang-kurangnya harus mencakup:

  1. ada/tidaknya kebocoran atau ceceran dari kemasan ,
  2. kondisi kemasan, termasuk penyok, gembung, dan karat,
  3. simbol dan label – periksa apakah ada simbol dan/atau label yang terlepas dan tanggal pengemasan yang tertulis untuk mencegah penyimpanan melebihi 90 hari, dan
  4. pengelolaan penyimpanan, seperti jarak antar baris dan ketinggian tumpukan.

Beberapa tips praktis dalam melakukan inspeksi antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Ikuti daftar periksa – buat suatu catatan rinci jika terdapat sesuatu yang tidak sesuai.
  2. Lakukan dengan seksama. Periksa kondisi kemasan apakah terdapat tumpahan/ceceran dan perkaratan.
  3. Periksa sekeliling kemasan dan seluruh area penyimpanan.
  4. Periksa apakah ada noda/kotoran pada bak penampungan.
  5. Catat segala sesuatu yang tidak biasa pada bak penampungan – bahkan sekalipun mungkin hal tersebut bukan suatu masalah.
  6. Segera lakukan tindakan penanggulangan jika terjadi masalah.
  7. Pelihara buku catatan inspeksi.

 

About Muhammad Yusuf Firdaus

Board Certified Professional Chemical Engineer | Scientist | Hazardous Waste Specialist

Posted on March 26, 2016, in Chemical Engineering, Waste Management and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: