Pengemasan Limbah B3

Setelah melakukan karakterisasi dan kita mengetahui apakah antara limbah satu dengan lainnya saling tidak cocok atau saling bereaksi maka kita dapat menentukan jenis kemasan yang sesuai.  Tujuan dari pengemasan limbah B3 adalah untuk mencegah kontak antara limbah tersebut dengan manusia dan lingkungan sekitar. Kemasan limbah B3 harus memiliki penutup yang kuat dan mampu mengungkung limbah yang dikemasnya sebelum ditangani lebih lanjut. Kemasan limbah B3 juga harus selalu dalam kondisi tertutup jika sedang tidak dilakukan penambahan muatan, pengambilan sampel atau pemindahan muatan.

Jenis-jenis kemasan yang dapat digunakan untuk mengemas limbah B3 antara lain drum plastik tutup lebar, drum plastik tutup kecil, drum logam tutup lebar, drum logam tutup kecil, jumbo bag, jerry can, IBC box dan sebagainya.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan kemasan limbah B3, yaitu:

  1. Jumlah limbah yang akan dikemas. Jika limbah yang akan dikemas hanya berjumlah kecil/sedikit maka gunakanlah kemasan kecil. Sebagai contoh jika limbah yang akan dikemas hanya berjumlah 5 liter maka lebih baik dikemas menggunakan jirigen, bukan drum berukuran 200 liter.
  2. Pastikan limbah yang akan dikemas tidak akan bereaksi dan merusak kemasan. Pilihlah kemasan yang terbuat dari bahan inert terhadap limbah yang dikemas. Misalnya untuk mengemas limbah yang bersifat korosif harus menggunakan kemasan yang terbuat dari plastik, bukan logam.
  3. Bentuk fisik limbah yang akan dikemas. Sebagai contoh jika akan mengemas limbah cair menggunakan drum maka gunakan drum yang memiliki penutup kecil atau yang biasa diistilahkan sebagai closed top drum. Sebaliknya jika akan mengemas limbah padat menggunakan drum maka gunakan drum yang memiliki penutup lebar, atau yang biasa diistilahkan sebagai open top drum.
  4. Jika kemasan yang akan digunakan adalah kemasan bekas mengemas limbah atau bahan lain, pastikan limbah atau bahan yang sebelumnya dikemas cocok dengan limbah B3 yang akan dikemas kemudian. Disarankan untuk mencuci terlebih dahulu kemasan bekas yang akan digunakan untuk mengemas limbah B3.

Beberapa tips praktis untuk pengemasan limbah B3 adalah sebagai berikut:

  1. Pastikan Anda mengetahui limbah-limbah mana yang tidak saling cocok; jauhkan satu sama lain dan kemas dalam kemasan terpisah.
  2. Pastikan kemasan tidak rusak oleh limbah B3 yang dikemasnya.
  3. Jika Anda melakukan pencucian kemasan, pastikan untuk menampung dan melakukan karakterisasi air cuciannya sebelum dibuang.
  4. Jika suatu kemasan akan digunakan kembali secara rutin, pertimbangkan untuk menetapkan limbah yang akan dikemas ke dalamnya. Hal ini akan mempermudah Anda menggunakan kembali kemasan tersebut tanpa perlu mencucinya terlebih dahulu.
  5. Gunakan corong untuk menuangkan limbah cair ke dalam kemasan guna menghindari tumpahan. Jangan menggunakan satu corong yang sama untuk semua jenis limbah B3.
  6. Beberapa limbah B3 dapat mengalami ekspansi volume karena fluktuasi suhu dan tekanan (misalnya solvent). Pastikan untuk tidak mengisi limbah B3 hingga penuh ke dalam kemasan, kecuali jika menggunakan iso tank.

Selain jenis-jenis kemasan yang telah disebutkan di atas, terdapat pula kemasan khusus untuk mengemas limbah infeksius, di mana kemasan ini memiliki simbol biohazard yang sudah tercetak langsung di badannya. Kemasan ini memiliki warna yang mencolok, antara lain kuning, merah dan jingga. Terdapat dua jenis kemasan untuk mengemas limbah infeksius sebagai berikut:

  1. Untuk limbah infeksius tajam dan dapat menyayat kulit (mis: jarum suntik dan scalpel), limbah jaringan/potongan organ tubuh, darah dan media agar bekas inokulasi bakteri harus dikemas dengan wadah yang keras, kedap air dan anti tusuk seperti ember/bin.
  2. Untuk limbah infeksius non tajam seperti perban, kasa dan kapas dapat dikemas menggunakan kantong plastik.

Batas maksimal pengisian limbah infeksius ke dalam kemasan, baik yang berupa wadah ember/bin maupun kantong plastik, adalah 3/4 penuh.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengemasan limbah infeksius menggunakan kantong plastik biohazard adalah sebagai berikut:

  1. Pastikan hanya limbah infeksius non-tajam yang dikemas dalam kantong biohazard.
  2. Jangan mengisi lebih dari ¾ penuh.
  3. Setelah ¾ penuh, tarik perlahan untuk meminimalkan udara di dalam kantong – jangan mendorong kantong ke bawah atau melubanginya untuk mengeluarkan udara.
  4. Putar ujung atas kantong membentuk kepangan tunggal.
  5. Bentuk ikatan tunggal dari kepangan tunggal – jangan mengikat dengan model “telinga kelinci.
  6. Masukkan kantong biohazard ke dalam troli penyimpanan.

PENANDAAN KEMASAN LIMBAH B3

Semua kemasan limbah B3 yang telah terisi harus ditandai dengan simbol dan label limbah B3. Simbol dan label limbah B3 merupakan bentuk komunikasi bahaya dari suatu limbah B3. Simbol limbah B3 adalah gambar yang mewakili karakteristik suatu limbah B3, sedangkan label limbah B3 adalah tulisan yang berisi segala keterangan tentang suatu limbah B3 yang terdapat di dalam suatu kemasan. Adanya simbol dan label ini dapat memudahkan identifikasi suatu limbah B3 tanpa harus mengambil contoh limbah tersebut dan mengujinya di laboratorium, sekaligus memberikan peringatan kepada siapa saja yang akan menangani limbah B3 tersebut tentang potensi bahayanya.

Secara internasional, simbol limbah B3 sama saja dengan simbol B3, namun demikian Pemerintah Indonesia menetapkan simbol khusus untuk limbah B3 di Indonesia seperti yang diatur dalam PermenLH 14/2013, dan sebelumnya pada Kep-05/BAPEDAL/09/1995. Sepertinya hal ini dilakukan oleh Pemerintah untuk mencegah impor limbah B3 sebagaimana dilarang dalam UU 32/2009, karena jika simbolnya sama maka akan sulit untuk membedakan atau menentukan apakah yang diimpor tersebut adalah B3 atau limbah B3.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelekatan simbol dan label limbah B3 antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Pastikan kru yang bertugas memahami dengan baik arti dari simbol dan label yang dilekatkan pada kemasan.
  2. Pastikan simbol dan label yang digunakan ialah simbol dan label limbah B3, bukan simbol dan label B3
  3. Jika kemasan yang digunakan adalah kemasan bekas, pastikan simbol dan label sebelumnya sudah dilepas.

About Muhammad Yusuf Firdaus

Board Certified Professional Chemical Engineer | Scientist | Hazardous Waste Specialist

Posted on March 19, 2016, in Chemical Engineering, Waste Management and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: