Pengantar Pengelolaan Limbah B3

Sejak pecahnya Revolusi Industri di Britania Raya pada kurun waktu 1750-1850, industrialisasi marak terjadi di berbagai belahan dunia. Perubahan besar-besaran dalam proses industri yang semula menggunakan tenaga manusia dan kemudian beralih menjadi menggunakan tenaga mesin memberikan dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, budaya, dan ekonomi di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri pertumbuhan industri mulai marak sejak dekade 1970-an. Industrialisasi dalam era modern ini memang sudah tidak terelakkan lagi. Selain dapat menjadi kendaraan dalam persaingan global, industrialisasi terbukti memberikan dampak positif karena mampu membuka lapangan pekerjaan dan menyerap tenaga kerja, sehingga dengan sendirinya dapat meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat. Namun di balik sisi positifnya, muncul pula sisi negatif dari industrialisasi, yaitu meningkatnya timbulan limbah, baik jumlah maupun jenisnya, yang berdampak buruk terhadap lingkungan. Sayangnya masyarakat industri kurang atau bahkan sama sekali tidak peduli pada masalah limbah ini. Mereka beranggapan karena limbah merupakan sesuatu yang sudah tidak bernilai maka tidak perlu dilakukan upaya khusus untuk mengelolanya. Perlakuan masyarakat industri terhadap limbah yang dihasilkannya bahkan masih tetap sama seperti yang dilakukan oleh masyarakat agraris, yaitu membuang langsung ke lingkungan seperti sungai, mengubur di dalam tanah, atau membakarnya begitu saja. Jika perilaku ini tetap dan terus dibiarkan, maka dapat dibayangkan betapa besarnya dampak yang akan ditimbulkan terhadap lingkungan.

Limbah B3 dan Dampaknya

Di antara sekian banyak limbah yang dihasilkan dari kegiatan industri, beberapa di antaranya memiliki sifat berbahaya dan beracun, atau yang diistilahkan di Indonesia sebagai limbah B3. Selain dapat menyebabkan polusi terhadap lingkungan, limbah jenis ini juga dapat membahayakan kesehatan dan kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Limbah B3 yang bersumber dari industri dapat dihasilkan dari kegiatan produksi maupun kegiatan penunjang seperti pembersihan, pengolahan air limbah dan perbaikan kendaraan. Selain itu bahan baku dan produk yang kadaluarsa atau obsolet juga dapat dikategorikan sebagai limbah B3. Secara umum terdapat 3 (tiga) bahaya dari limbah B3, yaitu:

  1. Bahaya fisika, antara lain kebakaran dan ledakan
  2. Bahaya kimia, antara lain iritasi, korosi dan keracunan
  3. Bahaya biologi, antara lain infeksi, cacat lahir dan mutasi genetik

Suatu limbah B3 dapat menimbulkan salah satu atau gabungan dari ketiga bahaya di atas. Bahaya fisik terjadi disebabkan adanya kontak antara limbah B3 dengan faktor pencetus dari luar seperti sumber api dan guncangan, sedangkan bahaya kimia dan biologi terjadi karena kontak langsung antara limbah B3 dengan subyek paparan (manusia, hewan, atau benda). Jalur paparan bahaya limbah B3 terhadap manusia dan hewan sendiri dapat terjadi melalui inhalasi, tertelan, atau kontak dengan kulit.

Latar Belakang Pengelolaan Limbah B3

Pengelolaan limbah B3 telah menjadi agenda lingkungan internasional sejak awal dekade 1980-an ketika dimasukkan sebagai salah satu dari tiga area prioritas dalam Montevideo Programme on Environmental Law pertama yang diprakarsai oleh UNEP pada tahun 1981. Secara garis besar, upaya pengelolaan limbah B3 dilatarbelakangi oleh lima faktor, yaitu:

  1. Meningkatnya penggunan bahan berbahaya dan beracun pada berbagai kegiatan, khususnya industri. Saat ini diperkirakan sudah terdapat lebih dari 143.000 bahan kimia, yang terdiri dari bahan kimia alami dan sintetis, yang dipergunakan di seluruh dunia, khususnya dalam kegiatan industri. Sebagian dari jumlah tersebut merupakan bahan berbahaya dan beracun (B3), bahkan beberapa di antaranya merupakan polutan yang terbuat dari bahan/senyawa organik yang bersifat kekal, atau yang diistilahkan sebagai Persistent Organic Pollutants (POPs).
  2. Pencemaran yang diakibatkan oleh pembuangan limbah B3 terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Salah satu kasus pencemaran lingkungan terkait pembuangan limbah B3 yang terkenal di dunia adalah tragedi Minamata yang terjadi di Jepang pada dekade 1950-an. Tragedi ini terjadi karena terdapatnya metilmerkuri (CH3Hg+ atau MeHg+) pada air limbah dari salah satu pabrik kimia yang dibuang sembarangan ke Teluk Minamata. Senyawa sangat beracun ini kemudian mengalami bioakumulasi dalam tubuh ikan dan kerang yang terdapat di Teluk Minamata dan Laut Shiranui , yang ketika dikonsumsi oleh masyarakat menyebabkan keracunan merkuri (mercury poisoning). Kasus lain yang juga terkenal adalah tragedi Love Canal yang terjadi di Amerika Serikat pada dekade 1970-an, di mana saat itu terdapat sekitar 22.000 ton yang terdiri atas 200 lebih bahan kimia yang berbeda-beda yang ditimbun ke dalam tanah sejak 1942 hingga 1953, yang menyebabkan daerah tersebut terkontaminasi dan penduduknya mengalami masalah kesehatan serius. Di dalam negeri sendiri kasus pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah B3 yang terkenal adalah Tragedi Buyat yang terjadi di Minahasa, Sulawesi Utara yang terjadi sekitar tahun 2004. Tragedi ini terjadi karena pembuangan limbah tailing yang diduga berasal dari salah satu perusahaan tambang emas di beroperasi di daerah tersebut.
  3. Terjadinya kegiatan pembuangan limbah B3 ilegal dari negara maju ke negara berkembang. Salah satu praktek pengelolaan limbah B3 yang dilakukan oleh pihak industri di negara-negara maju adalah mengirimnya secara ilegal ke negara berkembang. Seiring dengan kebangkitan akan kesadaran lingkungan dan dengan semakin ketatnya peraturan lingkungan hidup di negara-negara maju pada dekade 1970-an membuat biaya yang harus dikeluarkan untuk pemusnahan limbah B3 semakin besar. Pada saat yang sama, globalisasi perkapalan membuat perpindahan limbah B3 lintas batas (trans-boundary movement) semakin mudah, dan banyak negara berkembang yang sangat membutuhkan mata uang asing. Hal inilah yang menyebabkan “perdagangan” limbah B3 dari negara maju ke negara berkembang tumbuh dengan pesat.
  4. Lahirnya Konvensi Basel yang mengatur tentang perpindahan limbah B3 lintas batas. Konvensi Basel lahir karena maraknya kegiatan perpindahan limbah B3 lintas batas (trans-boundary movement). Salah satu pencetus utama lahirnya Konvensi Basel adalah kasus Khian Sea Waste Disposal pada tahun 1988, di mana sebuah kapal bernama Khian Sea yang mengangkut limbah berupa abu insinerator dari Philadelphia, Amerika Serikat membuang muatan tersebut ke perairan sejumlah negara, antara lain Haiti, Senegal, Maroko, Yugoslavia, Sri Lanka dan Singapura.
  5. Berlakunya regulasi Konvensi Basel secara efektif setelah ditandatangani dan diratifikasi oleh sejumlah negara. Konvensi Basel dilaksanakan pada dekade 1980-an oleh PBB. Konvensi ini ditandatangani pada 22 Maret 1989 dan diberlakukan secara efektif pada 5 Mei 1992. Indonesia merupakan salah satu negara yang meratifikasi dengan Konvensi Basel yang disahkan melalui Keppres 61/1993.

About Muhammad Yusuf Firdaus

Board Certified Professional Chemical Engineer | Scientist | Hazardous Waste Specialist

Posted on March 6, 2016, in Chemical Engineering, Waste Management and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: