Karakterisasi Limbah B3

Semua limbah B3 yang dihasilkan harus dikelola dengan baik dan benar. Seperti kata pepatah tak kenal maka tak sayang, maka agar dapat mengelola limbah B3 dengan aman, kita perlu mengetahui dengan pasti apa limbah tersebut, apa akibat yang akan ditimbulkannya, dan seperti apa karakteristiknya. Apakah limbah tersebut sangat beracun? Apakah pekerja yang akan menangani memerlukan alat pelindung khusus? Apakah limbah tersebut korosif – apakah akan menyebabkan perkaratan pada jenis kemasan tertentu? Apakah limbah tersebut tidak cocok dengan limbah lain – apakah limbah tersebut akan bereaksi (menimbulkan ledakan atau nyala api) jika berkontak dengan limbah lain atau air?

Karakteristik limbah B3 bisa jadi berbeda antar satu negara dengan yang lainnya tergantung pada regulasi Pemerintah setempat. Secara umum karakteristik limbah B3 meliputi mudah menyala (ignitable), reaktif, korosif dan toksik. Di Indonesia sendiri terdapat 6 (enam) karakteristik limbah B3 sesuai dengan yang tercantum dalam PP 101/2014 dan regulasi-regulasi sebelumnya tentang pengelolaan limbah B3.

  1. Mudah meledak. Suatu limbah B3 dikatakan memiliki karakteristik mudah meledak (eksplosif) apabila pada temperatur dan tekanan standar (25 oC dan 760 mmHg) dapat meledak, atau melalui reaksi kimia dan/atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan sekitarnya. US-EPA sendiri tidak memasukkan sifat mudah meledak sebagai salah satu sifat limbah B3 karena sifat ini sudah termasuk dalam sifat reaktif. Sifat eksplosif dari suatu bahan atau limbah dapat dikategorikan berdasarkan kecepatannya berekspansi atau sensivitasnya terhadap lingkungan sekitar. Salah satu contoh limbah B3 dengan sifat mudah meledak adalah limbah kimia dari jenis peroksida organik. Limbah B3 jenis ini dikategorikan sebagai yang paling berbahaya, karena selain bersifat oksidator kuat juga memiliki sifat kimia yang tidak stabil. Kebanyakan senyawa peroksida organik sangat sensitif terhadap guncangan, gesekan, dan panas, serta dapat terdekomposisi secara eksotermis dengan melepaskan energi panas yang sangat tinggi. Contoh limbah peroksida organik antara lain asetil peroksida, kumena peroksida, asam parasetat, dan dibenzoil peroksida. Limbah lain yang memilki karakteristik mudah meledak adalah limbah kimia jenis monomer yang mampu berpolimerisasi secara spontan sambil melepaskan gas bertekanan serta panas yang tinggi. Contohnya adalah butadiena dan metakrilat.
  2. Mudah menyala. Suatu limbah B3 dikatakan memiliki karakteristik mudah menyala apabila dapat menyebabkan nyala api/kebakaran, dapat terbakar secara spontan, atau memiliki titik nyala kurang dari 60 o Walaupun umumnya limbah dengan karakteristik mudah menyala merupakan pelarut-pelarut organik, namun terdapat pula limbah padat yang bersifat mudah menyala seperti litium hidrida dan sodium hidrida, yang dapat menyala secara spontan apabila berkontak dengan udara. Contoh lainnya adalah trimetil aluminium yang merupakan senyawa organometal. Limbah padat yang memiliki karakteristik seperti ini dikenal dengan nama limbah pyrophoric.
  3. Reaktif. Limbah yang bersifat reaktif adalah limbah yang tidak stabil pada kondisi normal, di mana limbah tersebut dapat menyebabkan ledakan, bereaksi hebat dengan bahan tertentu, mengeluarkan asap, gas, dan uap beracun, atau menghasilkan campuran yang mudah meledak jika dipanaskan, dikompresi, atau dicampur dengan air. Contoh dari limbah jenis ini adalah beberapa logam dari golongan 1A pada Sistem Periodik seperti litium dan natrium yang bereaksi hebat dengan air menghasilkan gas hidrogen yang mudah terbakar. Beberapa senyawa logam berbentuk bubuk juga bersifat reaktif. Selain itu bahan-bahan pengoksidasi (oksidator) juga bersifat reaktif terhadap senyawa-senyawa organik yang dapat menimbulkan ledakan.
  4. Infeksius. Limbah infeksius adalah limbah yang dihasilkan dari kegiatan medis yang dapat menyebarkan wabah infeksi. Infeksius merupakan satu-satunya karakteristik limbah B3 yang tidak dapat dikuantitatifkan karena tidak ada satu instrumenpun yang dapat menganalisa dan menentukan level infeksi dari suatu bahan. Oleh sebab itu penentuannya hanya dilakukan dengan mencocokkan suatu limbah yang diduga sebagai limbah infeksius dengan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah. Umumnya limbah jenis ini dihasilkan dari fasilitas kesehatan seperti rumah sakit, klinik, dan laboratorium klinis/medis. US-EPA sendiri tidak memasukkan infeksius sebagai karakteristik limbah B3 dan pengelolaan limbah infeksius sendiri memiliki aturan terpisah sebagai pengelolaan limbah medis. Contoh dari limbah jenis ini adalah organ tubuh sisa pembedahan, jarum suntik bekas pakai, dan perban bekas membalut luka/darah. Selain itu saat ini Pemerintah juga menetapkan bahwa limbah sitotoksik (limbah dari kegiatan kemoterapi) juga dikategorikan sebagai limbah infeksius.
  5. Korosif. Limbah korosif adalah assam dengan nilai pH sama dengan atau kurang dari 2, dan basa dengan nilai pH sama dengan atau di atas 12,5, dan/atau limbah yang dapat menyebabkan perkaratan pada logam. Contoh limbah jenis ini adalah limbah asam sulfat bekas, sodium hidroksida bekas, akumulator sel basah, dan larutan etching.
  6. Toksik. Adalah limbah yang dapat berbahaya atau fatal jika mencapai jaringan target dan terakumulasi dalam konsentrasi tertentu di dalam tubuh makhluk hidup, baik dengan cara terhirup melalui saluran pernafasan, terserap melalui kulit, maupun tertelan melalui mulut. Contoh limbah jenis ini adalah timbal dan merkuri.

Untuk dapat dinyatakan sebagai limbah B3 suatu limbah tidak harus memiliki kesemua karakteristik tersebut di atas; cukup satu saja karakteristik yang dimiliki maka limbah tersebut sudah dapat dinyatakan sebagai limbah B3.

Karakterisasi harus dilakukan begitu suatu limbah B3 dihasilkan sebelum limbah tersebut dikemas. Karakterisasi limbah B3 dapat dilakukan dengan salah satu dari cara berikut:

  1. pengambilan contoh limbah dan analisa laboratorium
  2. lihat kemasan yang digunakan (bentuk, bahan pembuat, ukuran tutup)
  3. lihat simbol yang terlekat pada kemasan
  4. lihat MSDS limbah atau MSDS masing-masing bahan baku yang digunakan dalam proses/kegiatan yang menghasilkan limbah tersebut

 

About Muhammad Yusuf Firdaus

Board Certified Professional Chemical Engineer | Scientist | Hazardous Waste Specialist

Posted on March 6, 2016, in Chemical Engineering, Waste Management and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. artikel yang sangat bermanfaat, terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: