Manajemen Limbah Medis

DEFINISI

Sebenarnya tidak ada definisi yang pasti dan universal tentang limbah medis. Oleh sebab itu banyak sekali istilah yang digunakan untuk limbah jenis ini, mulai dari limbah medis, limbah rumah sakit, limbah infeksius, limbah fasilitas kesehatan dan regulated medical waste.

Berdasarkan US-EPA, limbah medis adalah limbah yang dihasilkan dari fasilitas medis: rumah sakit, klinik, praktek dokter/dokter gigi, bank darah, rumahsakit/klinik khusus hewan, lembaga riset medis dan laboratorium medis. Sedangkan menurut Medical Waste Tracking Act 1988, limbah medis adalah semua limbah padat yang dihasilkan dari kegiatan diagnosa, pengobatan atau imunisasi manusia dan hewan; riset medis; dan produksi atau pengujian material biologis.

Karena banyaknya pengertian yang beredar tentang limbah jenis ini, maka untuk lebih memudahkan dilakukan klasifikasi sebagai berikut:

  • Limbah rumah sakit atau limbah fasilitas kesehatan adalah semua limbah, baik biologis maupun non-biologis, yang dibuang oleh suatu fasilitas kesehatan dan tidak ditujukan untuk penggunaan lebih lanjut.
  • Limbah medis adalah material yang ditimbulkan dari hasil kegiatan diagnosa pasien, pengobatan atau pemberian imunisasi kepada manusia atau hewan.
  • Limbah infeksius atau regulated medical waste adalah limbah medis yang dapat menyebarkan wabah infeksi.

Catatan: Kongres Amerika Serikat dan US-EPA menggunakan istilah regulated medical waste untuk limbah infeksius.

CONTOH LIMBAH MEDIS

  • Perban bekas membalut luka/darah
  • Peralatan bekas kultur
  • Sarung tangan bedah bekas pakai
  • Instrumen bedah bekas pakai
  • Jarum suntik bekas pakai
  • Semua peralatan untuk penanaman kultur
  • Organ tubuh sisa pembedahan

BIOHAZARD

Adalah substansi biologis yang mengandung bahaya yang dapat mengancam makhluk hidup terutama manusia. Termasuk di dalamnya antara lain limbah medis, contoh mikroorganisme, virus atau racun yang berasal dari sumber biologis yang berefek pada manusia, serta substansi yang berbahaya bagi hewan.

KLASIFIKASI BIOHAZARD

  • Kategori A, UN2814 – substansi infeksius yang berefek kepada manusia dan hewan. Merupakan substansi infeksius yang dapat menyebabkan disabilitas permanen atau mengancam nyawa atau penyakit fatal pada manusia atau hewan ketika terpapar.
  • Kategori B, UN2900 – substansi infeksius yang hanya berefek kepada hewan. Merupakan substansi infeksius yang tidak dapat menyebabkan disabilitas permanen atau mengancam nyawa ataupenyakit fatal pada manusia atau hewan ketika terpapar.
  • Kategori B, UN3373 – substansi biologis yang digunakan untuk tujuan diagnosa dan investigasi.
  • Regulated Medical Waste, UN3291 – limbah atau material yang dapat digunakan kembali yang dihasilkan dari pengobatan medis terhadap manusia atau hewan, atau dari riset biomedis, termasuk produksi dan pengujian produk biologis.

TINGKATAN BIOHAZARD

  • Tingkat 1 – bakteri dan virus beberapa kultursel dan bakteri non-infeksius. Tindakan pencegahan pada tingkat ini tergolong minimal, hanya meliputi sarung tangan dan pelindung wajah.
  • Tingkat 2 – bakteri dan virus yang menyebabkan penyakit ringan pada manusia, atau yang sulit dimatikan dengan aerosol pada prosedur laboratorium.
  • Tingkat 3 – bakteri dan virus yang dapat menyebabkan penyakit berat dan fatal pada manusia, tetapi sudah ada vaksin atau pengobatannya.
  • Tingkat 4 – bakteri dan virus yang dapat menyebabkan penyakit berat dan fatal pada manusia dan belum adavaksin atau pengobatannya.

REGULASI MANAJEMEN LIMBAH MEDIS DI INDONESIA

  • Undang-undang No.32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
  • Peraturan Pemerintah No. 18/1999 tentang Pengelolaan Limbah B3.
  • Peraturan Pemerintah No. 85/1999 tentang Revisi Beberapa Pasal PP 18/1999.
  • Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 14/2013 tentang Simbol dan Label Limbah B3.
  • Peraturan MenteriKesehatan No. 1204/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit.
  • Keputusan Kepala BAPEDAL Kep-01/BAPEDAL/09/1995 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3.
  • Keputusan Kepala BAPEDAL Kep-02/BAPEDAL/09/1995 tentang Dokumen Limbah B3.
  • Keputusan Kepala BAPEDAL Kep-03/BAPEDAL/09/1995 tentang Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah B3.

PENGEMASAN

  • Semua limbah medis hanya boleh dibuang menggunakan kemasan khusus berlogo biohazard.
  • Limbah medis tajam seperti jarum, pisau bedah, alat suntik (dengan atau tanpa jarum) dan benda medis lainnya yang dapat menyayat dan menusuk kulit, serta limbah infeksius seperti sisa preparat dan kultur bakteri harus dikemas menggunakan kemasan yang keras, tahan pecah, tahan tusuk, anti bocor dan kedap air.
  • Limbah infekisus seperti kapas, masker dan sarung tangan dapat dibuang menggunakan plastic bag.
  • Batas pengisian maksimal adalah ¾ penuh.

PENGUMPULAN, PENYIMPANAN DAN PENGANGKUTAN

  • Pengumpulan limbah medis harus menggunakan troli tertutup.
  • Pengumpulan limbah medis berupa bendatajam (scalpel, jarum, kaca preparat) dikumpulkan ke dalam suatu wadah khusus tanpa memperhatikan terkontaminasi atau tidaknya.
  • Penyimpanan limbah medis harus sesuai dengan iklim tropis, yaitu paling lama 48 jam pada musim hujan dan 24 jam pada musim kemarau.
  • Pengangkutan limbah medis keluar dari fasilitas medis harus menggunakan kendaraan khusus.

PENGOLAHAN

  • Sterilisasi panas kering dengan menggunakan oven Poupinel pada suhu 160 derajat Celsius selama 120 menit atau pada suhu 170 derajat Celsius selama 60 menit.
  • Sterilisasi panas basah dengan menggunakan autoclave pada suhu 121 derajat Celsius selama 30 menit.
  • Sterilisasi dengan menggunakan bahan kimia berupa gas ethylene oxide pada suhu 50-60 derajat Celsius selama 3-8 jam, atau dengan menggunakan glutaraldehyde selama 30 menit.
  • Disinfeksi
  • Degradasi kimia
  • Insinerasi suhu tinggi
  • Enkapsulasi
  • Inersisasi

Catatan:

  • Bagi fasilitas medis yang memiliki insinerator di lingkungannya harus membakar limbah medisnya selambat-lambatnya 24 jam.
  • Bagi fasilitas medis yang tidak memiliki insinerator di lingkungannya, maka limbah medisnya harus diolah melalui kerjasama dengan fasilitas medis lain atau pihak lain yang memiliki izin pengoperasian insinerator untuk diolah selambat-lambatnya 24 jam jika disimpan pada suhu ruang.

PENGGUNAAN KEMBALI

  • Limbah medis yang akan digunakan kembali harus melalui proses sterilisasi terlebih dahulu. Untuk mengetahui efektivitas sterilisasi panas harus menggunakan tes Bacillus stearothermophillus, sedangkan untuk mengetahui efektivitas sterilisasi bahan kimia harus menggunakan tes Bacillus subtilis.
  • Limbah medis yang dapat digunakan kembali meliputi scalpel, jarum hipodermik, syringe dan botol gelas.

Catatan:

Limbah jarum hipodermik TIDAK dianjurkan untuk digunakan kembali. Apabila fasilitas medis tidak mempunyai jarum sekali pakai, maka limbah jarum hipodermik dapat digunakan kembali setelah melalui sterilisasi.

About Muhammad Yusuf Firdaus

Board Certified Professional Chemical Engineer | Scientist | Hazardous Waste Specialist

Posted on March 31, 2014, in Life Science, Waste Management. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: